Berpendidikan Namun Tidak Terdidik

Dewasa ini kasus bullying masih menjadi tranding topik diberbagai kalangan. Yang lebih meresahkan lagi hal ini terjadi di lingkungan pendidikan. Kurangnya atensi, sinkronisasi dan good cooperate dari berbagai pihak. Seperti kasus yang sedang booming kali ini di SMP Sabilul Muhtadin Jenu Tuban. Sungguh disayangkan bukan? Lingkup pendidikan yang notabene nya adalah berbasis agama, namun moralnya sangat minus. Hal ini yang menyebabkan citra lembaga pendidikan Islam mendapatkan nilai buruk. Seharusnya antara ketiga elemen, baik guru, orang tua dan murid harus sinkron. Tidak boleh ada kasus serupa di kemudian hari. Bahkan PLT kepala dinas pendidikan kabupaten Tuban pun ikut serta turun tangan atas kejadian tersebut.

Sungguh sangat memprihatikan sekali. Jika lembaga pendidikan yang notabene nya berbasis pendidikan Islam saja masih seperti itu, lalu masyarakat harus mempercayakan kepada siapa lagi. Harapan orang tua menitipkan putra-putrinya di suatu lembaga pendidikan Islam agar mendapatkan pendidikan yang layak, namun malah di perlakukan seperti itu. Jika wajah pendidikan sudah tercoreng, bagaimana cara lembaga pendidikan mengembalikan kepercayaan masyarakat?. Yang pasti kedepannya pendidikan Islam harus menunjukkan sisi baik seperti prestasi anak, akhlak mulia yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian harapan kedepannya peserta didik mampu bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan berkarakter sesuai ajaran Islam.

Dan untuk guru pun harus lebih ekstra dalam mendidik, lebih memperhatikan anak didiknya. Terkadang anak-anak cenderung diam dan tidak mau mengkomunikasikan kepada guru atau orang tua terkait apa yang sedang mereka alami. Dan orang tua juga harus lebih memperhatikan anak-anaknya agar anak lebih terbuka terhadap orang tua juga. Sesekal pihak sekolah mengundang wali murid untuk silaturahmi dan koordinasi dengan guru. Demi perkembangan, pertumbuhan dan kemajuan anak agar sinkron. Karena suksesnya pendidikan itu harus ada kerja sama yang baik antara guru, orang tua dan murid.

Penulis: Umi Rossy Mardhiyah, M.Pd.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *